sebuah cerita fiksi,Horor,Humor,Dongeng dan kisah nyata

Saturday, January 30, 2010

Awet Muda

Kusno terkenal dengan keteguhannya memegang perkataan yang ia ucapkan. Ya.. memang kalau bukan kata-kata, apa lagi yang bisa dipegang dari seseorang untuk mempercayainya?





Suatu ketika sahabatnya yang hendak merantau berkata, ”Kusno... Aku hendak pergi merantau. Saat ini umurku genap 21 tahun. Bila kelak aku kembali lagi ke sini berapa usiaku nanti?”



”Kita lihat saja berapa lamanya kau pergi merantau, Rin,” jawab Kusno.



”Usiamu berapa saat ini, Kusno?” tanya sobatnya lagi.



”Aku tiga bulan lagi genap 21 tahun, dan musim tanam ini jatuh temponya,” terang Kusno pada Sirin, sahabatnya.



Delapan belas tahun berlalu begitu cepat. Sirin yang merantau telah pulang kembali ke kampung halamannya. Ia berniat menemui Kusno yang masih saja bekerja sebagai petani Cabai itu.



Melangkahlah Sirin ke rumah Kusno.



”Sahabatku, Kusno...” panggil Sirin pada Kusno setibanya di beranda rumah.



“Siapa di luar sana?” sahut Kusno dari dalam rumah.



“Aku Sirin.”



“Masuk lah kemari, Rin.”



“Aku telah pulang merantau, Kusno. Aku pergi selama delapan belas tahun lamanya. Umurku telah bertambah, jadi 39 tahun sekarang.”



”Berapa usiamu saat ini, Kusno?” tanya Sirin langsung pada Kusno.



”Ya, tentunya masih 21 tahun, kawanku. Dan tiga bulan lagi genap hitungan usiaku. Musim tanam ini lah jatuh temponya,” jawab Kusno dengan mantap.



”Bagaimana kau ini? Aku saja merantau 18 tahun, usiaku kini 39 tahun karena ditambah usiaku saat mau pergi merantau dulu.”



”Dengarkan Aku, sobat. Aku orang yang tidak suka menambahi atau mengurangi suatu ucapan yang pernah terlontar keluar dari mulutku.”



”Dulu ketika kau mau pergi merantau, aku berkata usiaku genap tiga bulan lagi 21 tahun. Sekarang pun setelah kau kembali pulang dari merantau, maka aku tetap berkata hal yang sama,” ujar Kusno dengan penuh keyakinan dan mimik wajah serius.
Kiriman dari M.Ichsan member of Dr.Qbul Group in FB.

Tuesday, January 26, 2010

Astaga.com lifestyle on the net

Sebuah keyword dari Kontes SEO yang diadakan oleh Astaga.com dalam rangka REBORN yang menjadikan Astaga.com semakin baik, tajam dan berimbang dalam penyajian beritanya, yang mau ikutan silahkan daftar aja coba-coba, Kontes dimulai dari tanggal 30 november 2009 s/d 03 maret 2010 tenang masih keburu, mohon maaf sebelumnya anda mungkin mengira saya ikutan kontes, saya cuma kasih info aja koq saya tidak ikutan kontes abis saya gak ngerti SEO itu apa dan gimana kerjanya, kalau saya ikutan ya jelas kalah he,he,he... maklum baru belajar ngeblog, tapi memang Astaga.com sudah lama saya mendengar dari sebelum saya mengenal yang namanya internet, karena pada waktu itu media TV dan Radio sering sekali mengambil referensi berita dari Astaga.com, apalagi sekarang yang sudah lebih lengkap lagi menunya, bukan hanya penyajian berita saja tapi sudah menjadi trend lifestyle, dan Forum Astaga.com yang gak pernah sepi, wah luar biasa, saya salut dengan Astaga.com, Saya pernah bermimpi kapan saya bisa mengelola website berita seperti Astaga.com gimana mau mengelola la wong ngeblog aja masih belajar he,he,he.., tapi kan gak masalah bermimpi karena menjadikan motivasi buat saya untuk belajar terus makanya saya sering berselancar browsing sana dan sini termasuk Astaga.com melihat apalagi yang di kembangkan mudah-mudahan bisa menginspirasi saya tuk bisa seperti Astaga.com lifestyle on the net, okelah kalo begitu saya cuma kasih dukungan sama temen-temen blogger yang ikutan Kontes SEO dari Astaga.com lifestyle on the net, Selamat berjuang, bersainglah secara sehat, dan semoga Anda sebagai pemenang...! tapi ingat Menjadi pemenang Kontes SEO bukan berarti sudah cukup untuk belajar tapi masih banyak misteri yang belum terungkap didunia maya eit .. bukan maya tetanggaku lho ..! tapi Dunia Internet yang tidak nyata tapi bisa menjadi nyata..! sukses ya...!

Monday, January 25, 2010

Menanam Kentang

Sudah setahun lamanya Amir mendekam di penjara. Sudah empat kali musim tanam pula ia tak membantu istrinya mengolah kebun kentang mereka.

Suatu hari datanglah surat dari istrinya yang diberikan sipir penjara.. Sebagaimana pesakitan lainnya, surat istri Amir telah dibaca lebih dulu oleh sang sipir penjara.

"Bang Amir," kata sang istri dalam surat tersebut, "Musim menanam kentang telah tiba. Aku tak punya uang sepeser pun untuk mengupah orang mencangkuli lahan kebun kita. Bagaimana ini, Bang?"

Membaca isi surat tersebut, Amir menjadi sedih dan bingung. Ia tak bisa membantu pekerjaan berkebun sang istri. Akan tetapi ia tak putus asa. Lalu ia membalas surat istrinya itu.

"Sayangku, jangan sekali-kali kau mencangkuli kebun kita, kalau kau tak mau melihatku membusuk selamanya di penjara ini. Karena di sanalah aku menimbun senjata api dan hasil rampokanku dulu," balas Amir dalam suratnya.

Lalu surat tersebut ia titipkan pada sipir penjara dengan maksud agar dapat diberikan pada istri Amir. Namun, sang sipir langsung membukanya secara diam-diam.

Berselang beberapa hari kemudian, tibalah kembali sepucuk surat balasan dari istri Amir.

"Bang Amirku tersayang.. Kemarin polisi dan para petugas penjara berkerumun di kebun kita. Mereka mencangkuli tiap jengkal tanah di sana. Entah apa yang mereka cari, Bang?"

Amir tersenyum sendiri membaca surat balasan dari istrinya itu. Kemudian ia menulis sepucuk surat yang ditujukan pada istrinya.

"Sayangku... Karena tanah di kebun kita sudah dicangkuli, sekarang saat yang tepat untuk menanam kentang," demikian bunyi suratnya.

Sipir penjara yang membaca diam-diam surat Amir, baru memahami kalau sebenarnya ia dan para petugas lainnya telah dikerjai.
kiriman dari Muhammad Ichsan

Thursday, January 21, 2010

Asal-Usul Lampung Cikoneng

Pada zaman Raja - Raja yang menimpin pada umumnya memiliki kekaromahan berupa kesaktian, hal tersebut menjadi salah satu faktor penunjang dalam memimpin di suatu kepemerintahan.
Pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf di Kesultanan Bantenbeliau berupaya untuk dapat menundukan Kerajaan Galuh yang berpusat di Pajajaran, ( Galuh Pajajaran ).

Adapun Visi dan misi beliau menundukan Kerajaan Galuh Pajajaran yaitu :

Misi : Menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran

Visi : Guna penyebaran Agama Islam.

namun untuk dapat mewujudkan Visi dan misinya, sultan Banten memimta bantuan dari Keratuan Skala Beghak yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa.

Beberapa hal yang membuat Sultan Banten meminta bantuan terhadap Kratuan Skala Beghak diantaranya yaitu :

1. Adanyanya keturunan Ratu Menapik atau Wangsa Sailendra yang disebut dengan Kebuwayan ( Kebuwayan Empat ).
2. Sultan Banten mengetahui bahwasanya Raja - Raja yang berada di Nusantara dibawah kekuasaan Keluarga Sailendra yang berada di Bumi Lampung, ( Ratu Skala Beghak )

Selanjutnya Sultan Banten mengirim utusannya terhadap Ratu Skala Beghak yang berpusat di bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa.

Dalam pengiriman utusan tersebut Sultan banten mengirim utusannya kekkeratuan Skala Beghak sebanyak 2 ( Dua ) kali :

1. Pertama utusan Sultan banten tidak sampai pada Ratu Keratuan Skala Beghak menlainkan bertemu dengan Paksi yang berada di Bumi Lampung ( Paksi Empat ).
2. Kedua utusan Kesultanan banten bertemu dengan Ratu Skala Beghak di Bandar Agung Sukadan Way Tebing Liwa.

Menyikapi hal tersebut lalu Ratu Skala Beghak mengirim utusannya sebanyak 40 ( Empat Puluh ) orang utusan guna membantu Kesultanan Banten.
Adapun ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan terseut terdiri dari :

1. 8 ( Delapan ) orang utusan, ditambah 2 ( Dua ) orang utusan khusus dari Kebuwaian Buwai Banyu Nyerupa yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liw.
2. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bujalan Diwai yang berada di Pekon Tengah Liwa.
3. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bunyata ( Menyata ), yang berada di Pekon Sukanggeri Liwa.
4. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Belunguh, yang berada di Pekon Nenggeri Agung Liwa.

Sebelum 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut diberangkatkan menuju Kesultanan Banten guna membantu Kesultanan Banten menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran, Ratu Skala Beghak menunjuk 2 ( Dua ) orang dari Kebuwaian Buwai nyerupa ( dua orang utusan khusus ) guna mengetuai rombongan yang akan diberangkatkan ke bumi Banten.

Setelah mereka semua telah dibekali dengan berbagai perlengkapan perang serta kebutuhan ( perbekalan ) secukupnya, kemudian ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut menuju ke Kesultanan Bantenguna bergabung terhadap Pasukan dari Kesultanan Banten.

Setibanya utsan dari Keratuan Skala Berghak di Bumi banten mereka disambut oleh seluruh rakyat Banten dan Sultan Baten di Kesultanan Banten. Tak lama melepaskan lelah dari menempuh perjalanan yang cukup jauh, serta telah beradap tasi terhadap pasukan dari Kesultanan Banten, juga kedua pasukan tersebut telah menyatukan Visi dan Misi dari Sultan Banten, kemudian Pasukan Gabungan tersebut munuju ke Kerajaan Galuh Pajajaran ( Medan Perang ).

Ketika kedua pasukan bertemu di medan perang pada akhirnya perang pun tak dapat dihindarkan perang yang terjadi pada akhirnya dimenangkan oleh Pasukan Gabungan

Berita tentang takhluknya Kerajaan Galuh Pajajaran membuat seluruh rakyat Banten bergembira terlebih lagi Sultan Maulana Yusuf.kegembiraan, serta keharuan yang beliau rasakan membuat air mata beliau jatuh berlinangan.

Betapa tidak, sejak Kerajaan Galuh Pajajaran di kuasai oleh Rahyang Purba Sora,hingga keturunan - keturnannya yang menjabat sebagai pemimpin di Kerajaan Galuh Pajajaran, kerajaan tersebut tak dapat ditakhlukan oleh kerajaan manapun, khususnya Raja - Raja yang ada di Jawa Dwipa.

Hal tersebut dapat kita ketahui dari beberapa peristiwa yang menimpah Kerajaan Galuh Pajajaran diataranya :

1. Pada masa kepemimpinan Kerajaan Maja Pahit dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk, Kerajaan tersebut ingin menakhlukan kerajaan Galuh Pajajaran, dengan cara menjodohkan Raja Hayam Wuruk dan putri Raja Galuh Pajajaran bernama Diah Pitaloka, namun hal tersebut tak dapat terlaksanakan sehingga upaya Patih Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara, tak dapat terlaksana.
2. Pada Masa Kerajaan Islam Demak dibawah kepemipinan Raja Tronggono serta Panglima Perangnya bernama Syarif Hidayatulloh, Kerajaan Islam Demak pernah menyerang Kerajaan Galuh Pajajaran, namun penyerangan tersebut hanya dapat merebut ke 3 ( Tiga ) kerajaan yang menjadi bawahan dari Kerajaan Galuh Pajajaran yang terdiri dari Kerajaan Sunda Kelapa, Kerajaan Banten, serta Kerajaan Cirebon.

Kini dibawah kepemimpinan beliau Kerajaan Galuh Pajajaran dapat ditakhlukan oleh Kesultanan Banten ( Pasukan Gabungan ).

Sekembalinya Pasukan Gabungan dari medan perang, Pasukan Gabungan tersebut disambut oleh seluruh Rakyat Banten dengan mengadakan berbagai acara di Kesultanan Banten.

Didalam acara tersebut tak lupa Sultan Banten memberikan {mospagebreak}penghormatan terhadap pasukan yang gugur dalam pertempuran. Satu - persatu acara dilalui, kemudian atas jasa - jasa dari 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Skala Beghka ( Kebuwayan Empat ), Sultan Banten meminta kesediaan terhadap utusan Keratuan Skala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten.

Atas kesediaan dari ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Sala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten lalu Sultan Maulana Yusuf menempatkan mereka di suatu wilayah yang diberinama Cikoneng.

Bermula dari adanya 40 ( Empat Puluh ) orang dari Keratuan Skala Beghak tersebut lama - kelamaan mereka dikenal dengan sebutan " lampung Cikoneng "

Catatan sejarah Asal Usul Lampung Cikoneng ini di tulis oleh Nyerupa Sang Wai Tu Opara Bahrun Sailendra, Anton Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Bahrun Djakia Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Sudirman Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Abdul Murad Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Mustopa Sailendra.

Sunday, January 3, 2010

Cari Lowongan Kerja Bag.I

Wisuda adalah masa transisi dari Mahasiswa kembali ke masyarakat, ada seorang pemuda yang bernama Badra yang baru saja Lulus kuliah, rencana Badra ingin mencari pekerjaan kebetulan dia tinggal di kota Bandar Lampung, namun setelah sekian lama Badra belum juga mendapatkan pekerjaannya sehingga dia pun nekat ingin mengadu nasib di Jakarta, dengan berbekal ijazah S-1 Akuntansi dan Pakaian yang necis dan membawa uang yang hanya cukup untuk ongkos, dia pun Nekat pergi dengan menumpang mobil Truck pengangkut hasil bumi, namun karena Badra tidak diminta ongkos dia pun harus membantu menurunkan hasil bumi dari atas truck, "Ah.., gak masalah yang penting saya bisa sampai Jakarta" guman Badra, Akhirnya mobil yang ditumpanginya sampai juga di Jakarta, tepatnya di Pasar cijantung dekat Markas Kopasus, setelah selesai bongkar Badra pun mulai berjalan mencari daerah perkantoran, namun karena Badra baru pertama kali kejakarta, Badra berjalan tanpa Arah,"Waduh..,saya harus kemana ya..? ah..,disana ada gedung-gedung bertingkat mending saya kearah sana ajalah.." guman Badra, Badra pun berjalan dan terus berjalan setelah sampai di daerah gedung-gedung bertingkat, sayang seribu sayang semua perkantoran sudah pada tutup karena hari sudah petang, Badra pun kecewa dan akhirnya dia pun menggelandang karena tidak memiliki saudara di Jakarta, ketika malam tiba Badra terkagum-kagum melihat gemerlapan lampu, Badra pun melanjutkan perjalanannya yang tanpa ada tujuan, berharap jika ketemu orang lain menawarkan pekerjaa, malampun semakin larut akhirnya Badra mencari tempat untuk tidur walau beralaskan koran bekas, Keesokan harinya dipagi yang cerah Badra terbangun karena mendengar suara pecah ban dan terjadi tabrakan sebuah mobil dan kendaraan motor, sontak Badra pun berlari menuju TKP (tempat kejadian perkara) saat dia mendekat dilihatnya ada beberapa orang yang sedang sibuk menolong namun terlihat janggal karena gelang, kalung dan beberapa lembar rupiah juga ikut diselamatkan, karena melihat hal yang demikian Badra pun urungkan niat tuk mendekat dan hanya merasa hatinya terenyuh, sambil memikirkan kejadian tadi Badra pun mulai berjalan lagi menapaki gedung-gedung bertingkat dan berhenti di salah sebuah masjid sambil numpang mandi setelah itu Badra kembali melanjutkan perjalanan dan sesekali Badra berhenti untuk menanyakan apakah ada lowongan, tapi tak satupun menyuruhnya untuk masuk, tibalah di sebuah taman kecil Badrapun beristirahat sambil menahan rasa lapar apalagi dia sudah tidak punya uang sama sekali, di tengah melamunnya tanpa sadar setiap yang lewat selalu melempar koin pada kaleng di depan Badra, padahal kaleng itu sudah ada sebelum Badra dateng, tapi Badra hanya tersenyum memperhatikan setiap orang yang memberi, Badra masih bingung belum dapat pekerjaan sementara Uang selalu datang di hadapan dia ~Bersambung~ Berikan saran anda Apa yang seharusnya Badra Lakukan..?

Adil dan Sama Rata

“Masa kecil seseorang menentukan watak dan perilakunya suatu hari kelak”, Demikian orang bijak mengatakan, dan Hal yang sama terjadi pada diri Ujang sewaktu dia masih kanak-kanak dahulu.
“Hei…!! kenapa kalian bertengkar ?” tanya Ujang yang baru muncul dari semak belukar dekat kebun Pak Mamat.
“Lha, kamu sendiri darimana, Jang?” , Tanya ketiga temannya hampir berbarengan.
“Ah, Kalian pasti tahu! Kalo aku keluar dari sana, pasti sehabis mengerjakan hal yang besar,” Jelas Ujang kepada mereka dengan lagaknya.
“Mengerjakan Hal Besar?” Teman-temannya keheranan, “Hah…, Kami tahu, kamu pasti habis buang Air Besar di kebun Pak Mamat, Kan?!?!?” Seru mereka serempak.
“Iya, he…,he…,he…,” Cengar-cengir Ujang Cengengesan. “O..iya, Kalian tadi kenapa bertengkar?” Tanya Ujang. “Begini Jang,” kata salah seorang dari mereka memulai, “Kan tadi kita habis bantu mbah Parni, menggiring entok-entoknya pulang kekandangnya, Lalu, Mbah Parni yang baik itu memberikan kami delapan butir telur yang ada di hadapanmu itu,” Jelas Temannya kepada Ujang.
“kalau begitu kalian tinggal bagi-bagi saja telur-telur itu”, anjur Ujang kepada Mereka.
“Nah, Itulah pangkal sebabnya!”, Sahut teman-temannya hampir berteriak di depan Ujang.
“Pelan-pelan bicaranya,” kata Ujang spontan kaget.
“Telurnya ada delapan butir, kalau dibagi rata dengan kami bertiga tentu tidak bisa, setiap orang akan mendapat dua butir dan masih tersisa dua butir lagi.” Jelas temannya itu.
“Baiklah, aku akan membantu kalian kali ini, ulurkan dan buka tangan kalian masing-masing.’ Kata Ujang sambil mengambil telur-telurnya.
“Nah, sekarang setiap orang mendapat dua butir telur, tidak lebih tidak kurang.”
“Tapi, kan masih ada dua butir telur lagi, lalu bagaimana?” tanya mereka semua kebingungan.
“Ooo,kalau yang dua butir lagi tentunya untukku,sebagai upah telah membagi secara Adil kepada kalian telur-telur tadi ,” jawab Ujang.





Kiriman dari :
Muhammad Ichsan member of Dr.Qbul Facebook Group.

Situs Jual Beli

Situs Jual Beli
Portal Iklan Gratis Indonesia