Pada zaman Raja - Raja yang menimpin pada umumnya memiliki kekaromahan berupa kesaktian, hal tersebut menjadi salah satu faktor penunjang dalam memimpin di suatu kepemerintahan.
Pada masa kepemimpinan Sultan Maulana Yusuf di Kesultanan Bantenbeliau berupaya untuk dapat menundukan Kerajaan Galuh yang berpusat di Pajajaran, ( Galuh Pajajaran ).
Adapun Visi dan misi beliau menundukan Kerajaan Galuh Pajajaran yaitu :
Misi : Menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran
Visi : Guna penyebaran Agama Islam.
namun untuk dapat mewujudkan Visi dan misinya, sultan Banten memimta bantuan dari Keratuan Skala Beghak yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa.
Beberapa hal yang membuat Sultan Banten meminta bantuan terhadap Kratuan Skala Beghak diantaranya yaitu :
1. Adanyanya keturunan Ratu Menapik atau Wangsa Sailendra yang disebut dengan Kebuwayan ( Kebuwayan Empat ).
2. Sultan Banten mengetahui bahwasanya Raja - Raja yang berada di Nusantara dibawah kekuasaan Keluarga Sailendra yang berada di Bumi Lampung, ( Ratu Skala Beghak )
Selanjutnya Sultan Banten mengirim utusannya terhadap Ratu Skala Beghak yang berpusat di bandar Agung Sukadana Way Tebing Liwa.
Dalam pengiriman utusan tersebut Sultan banten mengirim utusannya kekkeratuan Skala Beghak sebanyak 2 ( Dua ) kali :
1. Pertama utusan Sultan banten tidak sampai pada Ratu Keratuan Skala Beghak menlainkan bertemu dengan Paksi yang berada di Bumi Lampung ( Paksi Empat ).
2. Kedua utusan Kesultanan banten bertemu dengan Ratu Skala Beghak di Bandar Agung Sukadan Way Tebing Liwa.
Menyikapi hal tersebut lalu Ratu Skala Beghak mengirim utusannya sebanyak 40 ( Empat Puluh ) orang utusan guna membantu Kesultanan Banten.
Adapun ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan terseut terdiri dari :
1. 8 ( Delapan ) orang utusan, ditambah 2 ( Dua ) orang utusan khusus dari Kebuwaian Buwai Banyu Nyerupa yang berpusat di Bandar Agung Sukadana Way Tebing Liw.
2. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bujalan Diwai yang berada di Pekon Tengah Liwa.
3. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Bunyata ( Menyata ), yang berada di Pekon Sukanggeri Liwa.
4. 10 ( Sepuluh ) orang utusan dari Kebuwaian Buwai Belunguh, yang berada di Pekon Nenggeri Agung Liwa.
Sebelum 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut diberangkatkan menuju Kesultanan Banten guna membantu Kesultanan Banten menakhlukan Kerajaan Galuh Pajajaran, Ratu Skala Beghak menunjuk 2 ( Dua ) orang dari Kebuwaian Buwai nyerupa ( dua orang utusan khusus ) guna mengetuai rombongan yang akan diberangkatkan ke bumi Banten.
Setelah mereka semua telah dibekali dengan berbagai perlengkapan perang serta kebutuhan ( perbekalan ) secukupnya, kemudian ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan tersebut menuju ke Kesultanan Bantenguna bergabung terhadap Pasukan dari Kesultanan Banten.
Setibanya utsan dari Keratuan Skala Berghak di Bumi banten mereka disambut oleh seluruh rakyat Banten dan Sultan Baten di Kesultanan Banten. Tak lama melepaskan lelah dari menempuh perjalanan yang cukup jauh, serta telah beradap tasi terhadap pasukan dari Kesultanan Banten, juga kedua pasukan tersebut telah menyatukan Visi dan Misi dari Sultan Banten, kemudian Pasukan Gabungan tersebut munuju ke Kerajaan Galuh Pajajaran ( Medan Perang ).
Ketika kedua pasukan bertemu di medan perang pada akhirnya perang pun tak dapat dihindarkan perang yang terjadi pada akhirnya dimenangkan oleh Pasukan Gabungan
Berita tentang takhluknya Kerajaan Galuh Pajajaran membuat seluruh rakyat Banten bergembira terlebih lagi Sultan Maulana Yusuf.kegembiraan, serta keharuan yang beliau rasakan membuat air mata beliau jatuh berlinangan.
Betapa tidak, sejak Kerajaan Galuh Pajajaran di kuasai oleh Rahyang Purba Sora,hingga keturunan - keturnannya yang menjabat sebagai pemimpin di Kerajaan Galuh Pajajaran, kerajaan tersebut tak dapat ditakhlukan oleh kerajaan manapun, khususnya Raja - Raja yang ada di Jawa Dwipa.
Hal tersebut dapat kita ketahui dari beberapa peristiwa yang menimpah Kerajaan Galuh Pajajaran diataranya :
1. Pada masa kepemimpinan Kerajaan Maja Pahit dibawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk, Kerajaan tersebut ingin menakhlukan kerajaan Galuh Pajajaran, dengan cara menjodohkan Raja Hayam Wuruk dan putri Raja Galuh Pajajaran bernama Diah Pitaloka, namun hal tersebut tak dapat terlaksanakan sehingga upaya Patih Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara, tak dapat terlaksana.
2. Pada Masa Kerajaan Islam Demak dibawah kepemipinan Raja Tronggono serta Panglima Perangnya bernama Syarif Hidayatulloh, Kerajaan Islam Demak pernah menyerang Kerajaan Galuh Pajajaran, namun penyerangan tersebut hanya dapat merebut ke 3 ( Tiga ) kerajaan yang menjadi bawahan dari Kerajaan Galuh Pajajaran yang terdiri dari Kerajaan Sunda Kelapa, Kerajaan Banten, serta Kerajaan Cirebon.
Kini dibawah kepemimpinan beliau Kerajaan Galuh Pajajaran dapat ditakhlukan oleh Kesultanan Banten ( Pasukan Gabungan ).
Sekembalinya Pasukan Gabungan dari medan perang, Pasukan Gabungan tersebut disambut oleh seluruh Rakyat Banten dengan mengadakan berbagai acara di Kesultanan Banten.
Didalam acara tersebut tak lupa Sultan Banten memberikan {mospagebreak}penghormatan terhadap pasukan yang gugur dalam pertempuran. Satu - persatu acara dilalui, kemudian atas jasa - jasa dari 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Skala Beghka ( Kebuwayan Empat ), Sultan Banten meminta kesediaan terhadap utusan Keratuan Skala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten.
Atas kesediaan dari ke 40 ( Empat Puluh ) orang utusan dari Keratuan Sala Beghak untuk tetap berada di Bumi Banten lalu Sultan Maulana Yusuf menempatkan mereka di suatu wilayah yang diberinama Cikoneng.
Bermula dari adanya 40 ( Empat Puluh ) orang dari Keratuan Skala Beghak tersebut lama - kelamaan mereka dikenal dengan sebutan " lampung Cikoneng "
Catatan sejarah Asal Usul Lampung Cikoneng ini di tulis oleh Nyerupa Sang Wai Tu Opara Bahrun Sailendra, Anton Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Bahrun Djakia Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Sudirman Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Abdul Murad Sailendra, Nyerupa Sang Wai Tu Mustopa Sailendra.