sebuah cerita fiksi,Horor,Humor,Dongeng dan kisah nyata

Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, December 1, 2010

Berang Berang di Petang Merembang


“Datang lagi kau, yaa? Berombongan pula macam pawai Agustus-an!” Jaya mengomel meluapkan rasa kesalnya.

Sejak ikan-ikan yang dipeliharanya dari tiga bulan lalu makin menyusut, kini Jaya punya kebiasaan baru. Sepulang ngojek ia selalu menyempatkan diri mampir ke kolam ikan Guraminya. Mengintai berang-berang yang kerapkali menjadi pemangsa ikan-ikan di kolam itu. Usahanya tak sia-sia kali ini. Segerombolan berang-berang berbaris seperti prajurit tempur yang menuju medan perang. Berpapasan langsung tanpa basa-basi dengan Jaya yang hanya berjarak sekitar 6 meter dari mereka.

“Tak ada segan-segannya kalian denganku! Hmm,,, Awas! Kulempari mercon kalian sebentar lagi!” Jaya menggerutu, sambil melangkah masuk menuju rumah.

“Heran kali. Kenapa pula harus kolamku yang jadi sasaran berang-berang itu. Coba kolam Bang Fani saja, dia kan pelit orangnya. Panen ikan, seekor pun tak pernah dia berbagi. Lagi pula Ikan-ikan guraminya lebih banyak dari punyaku,” mengerumun rasa penasaran dalam hatinya.

Sementara itu berang-berang melancarkan aksi brutalnya di dalam kolam. Total chaos! Demikian niat yang tertanam mereka. Gerombolan binatang penganggu bagi para peternak ikan itu seakan tak terpengaruh dengan ancaman Jaya barusan. Mereka hanya menegaskan jati dirinya sebagai predator di komunitas rawa-rawa itu. Mengikuti hukum alam tentang rantai makanan yang menempatkannya pada posisi konsumen pemangsa ikan-ikan para peternak.

”Bub...blubuubb.. byuuuurr, byuuurr...,” air beriak di permukaan kolam. Seekor berang-berang di tepi kolam asik melahap gurami. Belum habis benar ikan malang itu dimakannya. Masih tersisa bagian ekor dan kepala. Ditinggalkannya saja tergeletak di atas rerumputan.

”Hari ini akan kutabuh genderang perang dengan mereka. Biar mereka tahu siapa aku, huh!” Jaya mendumel.

Ia melangkah masuk ke dapur. Di tungku tempat memasak, ia dapati arang-arang kayu bakar sisa menanak nasi pagi tadi. Ditumbuk halus, dan dicampur dengan minyak jelanta sisa menggoreng kerupuk. Mungkin terinspirasi oleh film Pasukan Khusus Navy Seal. Campuran minyak jelanta dan bubuk arang halus, ia jadikan masker penyamaran. Belang-belang hitam wajahnya kini.

Kali ini yang ada bukan Abdul Jaya. Anggota persatuan ‘Ojek Ramah di Segala Cuaca’. Sekarang dia mirip seorang personil pasukan khusus, dan tentunya dengan ‘special mission’ pula.

“Membabat habis musuh tanpa sisa, menyerang langsung ke jantung pertahanan,” demikian visi tempurnya.

Tuntas urusan dengan minyak jelanta dan bubuk arang dapur, Jaya masuk ke kamar tidur. Di depan kaca yang retak setengah, ia lama memandangi penampilannya kini. Topi baret coklat Pramuka milik Yanto keponakannya, ia kenakan untuk melengkapi penampilan sebagai seorang prajurit terlatih khusus.

Di bawah ranjang terletak sepucuk senapan ikan. Tak pelak lagi perlengkapan tempur dengan berang-berang itu segera saja ia raih. Tak lupa pula ia menjumput satu plastik penuh mercon-mercon cabai. Ia sengaja membelinya empat hari yang lalu. Sepertinya segala sesuatu telah direncanakan dengan baik oleh Jaya.

Suasana dalam rumah masih sepi saat itu. Kak Ruhiya, saudari kandungnya belum pulang dari berdagang pakaian bekas di kiosnya belakang Pasar Lopak. Biasanya Jaya dan kakaknya pulang berbarengan. Tapi entah kenapa Jaya hari ini tidak membonceng pulang Kak Ruhiya. Yanto sang keponakan semata wayang juga tak terlihat. Seperti biasa ia masih berada surau belajar mengaji dengan Pak Ustadz Nurman. Jadi Jaya begitu bebas berekspresi dengan gaya militernya saat ini.

”Satu langkah samping kiri, Jalan! Tegap senjata, gerak!” perintah Jaya lantang pada dirinya sendiri di depan cermin kamar.

“Hmm, aku sekarang sudah siap tempur. Gerakanku nanti tidak boleh tercium berang-berang kurang ajar itu,” benaknya mulai mengatur strategi penyerangan.

“Aku harus bergerak cepat seperti hantu. Tidak terlihat tapi langsung menyergap mereka dari segenap penjuru,” batinnya lagi.

Sementara sore mulai merambat pelan menuju malam. Semburat cahaya merah tembaga terlukis di langit senja. Mentari ingin pulang ke peraduan. Bergulir pelan, patuh mengikuti Sunatullah yang mengatur.

Sayup-sayup terdengar alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Begitu indah dan menentramkan bagi yang mendengar. Keluar dari pengeras suara surau yang terhambat renovasi dikarenakan kekurangan dana pembangunan. Ironi yang dramatis! Tempat yang menyediakan keberkahan dan kemuliaan fitrah suci manusia harus menunggu uluran tangan para dermawan begitu lama. Padahal bila rumah Tuhan disejahterakan, maka tak segan-segan pula rahmat dari Yang Maha Pengasih tercurah bagi seluruh penduduk kampung itu.

Setelah beberapa saat Jaya menghilang menuju kolam guraminya. Tiba dari pasar Kak Ruhiya. Lalu datang pula Yanto sepulang mengaji. Dua beranak itu menjalani rutinitas dengan tekun, sekalipun telah lima tahun ditinggal mati sang bapak sebagai tulang punggung keluarga. Kak Ruhiya berjualan pakaian bekas dari Batam untuk menafkahi diri, anak dan adik bungsunya Jaya yang suka berprilaku aneh. Namun kehidupan keluarga ini begitu tentram dalam kebersahajaan mereka penghuninya. Jarang sekali terdengar mereka mengeluh oleh himpitan ekonomi yang menyulitkan rakyat kecil. Kerja dan do’a merupakan payung mereka dari terpaan deras kesulitan yang senantiasa dihadapi. Mungkin juga disebabkan Kak Ruhiya yang pandai mengatur ekonomi keluarga.

“To.. Yanto... Yanto...!” panggil Kak Ruhiya pada anak semata wayangnya.

“Ya, makkk...!” sahut Yanto setengah berteriak dari dalam kamar menuju dapur.

“Sudah pulang kau rupanya!”

“Iya, mak. Barusan saja,” jawab Yanto sambil melangkah keluar kamar.

”Kemarilah. Mak bawakan gulai cincang kesukaanmu, nih! Makan lah dulu. Sudah makan nanti, kau tolong emak carikan Acik Jaya mu itu,” ujar Kak Ruhiya lembut.

Mata Yanto berbinar-binar ketika melihat gulai cincang dalam mangkuk. Ia tak menyimak pasti apa yang disuruh emaknya barusan. Benaknya hanya terbayang kelezatan gulai cincang bawaan sang bunda dari pasar.

”To, dengar tidak kau?! Tolong emak cari Acik Jaya mu sehabis makan ini,” ulang emak Yanto lagi.

”Iya, mak. Yanto makan dulu,” jawab Yanto cepat sambil mengambil piring makan.

Kak Ruhiya tersenyum sendiri melihat kelakuan anaknya kini.

Setengah jam kemudian, dapur senyap. Kak Ruhiya baru saja selesai sholat Maghrib. Masih mengenakan mukena, ia pergi ke dapur. Di sana tak ditemuinya Yanto.

Kak Ruhiya beralih ke kamar tidur anaknya. Yanto pulas terlelap di atas ranjang.

”Dasar ular sawah! Habis makan, langsung tidur. Disuruh cari Aciknya, malah tidur. Hari Maghrib bukannya sholat!” panjang omelan Kak Ruhiya pada anaknya.

”Bangun! Bangun cepat!” didorong-dorongnya Yanto.

“Cepat mandi dan sholat sana!”

“Iiiiya, mak” jawab Yanto gugup setengah sadar dikejutkan emaknya.

Lain yang terjadi di dalam rumah, lain pula yang terjadi di pinggir kolam ikan. Jaya diam-diam merayap mendekati gerombolan berang-berang. Walaupun suasana temaram, ia mengendap-endap dan menyeruak masuk ke dalam semak. Langit senja makin memudar merah saganya. Berganti dengan kelam pertanda malam. Suara jangkrik riuh meningkahi.

Berang-berang makin menjadi mengubek-ubek kolam. Tak terpengaruh akan kehadiran Jaya yang mengintai mereka. Seakan-akan tengah menikmati pesta besar makan ikan yang selalu mereka nantikan. Jaya? Tentu saja mereka lupakan.

Melihat keadaan sedemikian, hati Jaya bertambah geram. Kehadirannya sama sekali tak digubris berang-berang. Ia mengeluarkan dua ikat mercon cabai dari dalam tas ransel. Senapan ikan dipasangi sebatang bambu rautan bermata besi tajam runcing. Tak dapat dipungkiri sebuah kancah pertempuran seru akan tercipta kini.

”Hmm, tunggu kalian. Tunggu pembalasanku!” gumam Jaya geram. Gemeletuk suara gerahamnya berlomba dengan senandung riuh jangkrik ketika itu.

”Aku akan buat mereka panik dengan mercon-mercon ini. Begitu mereka panik, baru kutembaki dengan senapan ikan,” strategi penyerangannya mengatur gerak Jaya.

“Cresssssshh.. Cressshh..” mercon-mercon cabai mulai disulut.

“Tarr... Tlatarr.. Tarr.. Tarr..” suara letusan mercon-mercon yang dilempar Jaya membuat panik gerombolan berang-berang.

Asap mengepul. Membumbung bergulung-gulung laksana medan pertempuran sesungguhnya. Riuh rendah kebisingan terdengar. Ditambah pula teriakan kegirangan Jaya karena serangan dadakannya berhasil.

“Wuahahahaha..haha..ha..ha.. Rasakan pembalasanku, berang-berang penganggu!” Jaya melompat-lompat sambil tertawa. Berang-berang lari terbirit-birit.

“Ooo, kalian jangan lari... Jangan jadi pengecut, kalian semua! Nikmati dulu peluru senapan ikanku!” sigap Jaya membidik seekor berang-berang yang baru sadar tengah diserang.

”Blassssssh... Swinnnnggggg...” peluru senapan ikan melesat cepat. Tepat menembus leher seekor berang-berang. Hewan itu terhuyung-huyung. Bambu rautan bermata besi pipih tajam tertancap di lehernya.

”Mampus kau! Belum tahu sama Abdul Jaya,” seru Jaya bersemangat.

”Aku lebih dari kalian semua! Aku Sang Maha Raja Berang-Berang. Inilah upah menggangu ikan-ikan guramiku. Wuaaaahaha..ha..ha..ha..haaa....!” makin panjang saja suara tawanya saat itu.

Di muka rumah Kak Ruhiya berdiri menanti adiknya, Jaya yang tengah sibuk bertempur itu. Masih ia mengenakan mukenanya. Bertanya-tanya heran ia dalam hati.

”Kemana belut berkuping satu itu. Sudah sore tadi aku tidak dijemputnya, malah Maghrib tidak pulang ke rumah pula,” resah ia membatin sendiri. ”Makin aneh saja kelakuan adikku satu ini.”

”Yanto, kemari nak sebentar,” panggilnya lembut kepada Yanto.

”Ada apa, mak?”

”Tahu kemana perginya Acik Jaya mu, nak? Masa dari tadi belum pulang juga.”

“Motornya ada, tidak mak?” tanya Yanto heran.

“Tak tahulah. Emak belum lihat juga. Coba kau lihat di samping rumah.”

Bergegas Yanto pergi ke samping rumah.

“Motor Acik ada, makkk!” teriak Yanto

”Hmmm... Berarti dia kini sudah pulang. Tapi ada dimana sekarang?” makin bingung Kak Ruhiya kini.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara Jaya bernyanyi di luar rumah.

“Med baret coklat, jidatnya mengkilap... Kalau menyerang pasti secepat kilat, yo..yo..yo.. asikk..” yel-yel serdadu tempur keluar parau dari mulut Jaya. Susul-menyusul diiringi suara kaleng kosong yang ditabuh ritmis. Lantang terdengar sampai ke dalam rumah.

”Huhh... Ini dia belut berkuping yang kutunggu dari tadi,” gumam Kak Ruhiya dongkol ketika mendengar suara cempreng adiknya di luar sana.

“Makkk.. itu suara Acik Jaya,” seru Yanto pula.

“Iya, memang suara Acikmu yang ngawur itu.”

“Halo, Kak Ruhiya sayang.. How’re you today? You look so beautiful, you know? Hayo.. tolak pinggang gichu, gaya kakak makin asiiiik!” tanpa memperdulikan mata kakaknya yang mendelik, Jaya malah cengengesan mengguraui.

“Eitsss…! Senyum dong? Hehehehe!” Jaya cengar-cengir kuda dengan wajah belang-belang bercampur keringat.

“Heh.. belut berkuping!” bentak Kak Ruhiya seketika. “Dari mana saja kau, wereng coklat?”

”Siap! Lapor! Segerombolan berang-berang telah disapu bersih!” ala militer pula gayanya kali ini.

“Nah...nah.., itu apa pula bergelayut di pundak kau?!?!” tak terlalu pasat rupanya Kak Ruhiya melihat seekor berang-berang mati di pundak Jaya. Temaram suasana malam melamurkan pandangan matanya.

“Siap! Izin mendekat, komandan!”

“Komandan...komandan.., jidat kau!!” hardik Kak Ruhiya.

”Sabar dulu, Kak... Kan orang sabar jidatnya lebar. Buktinya jidat Kakak sendiri, kan?”tambah jadi Jaya mencandai Kak Ruhiya.

“Kurang ajar kau, yaa… Cepat kau kemari!”

”Hahh?!?! Apa ini, Jaya?!?!” terkejut bukan kepalang Kak Ruhiya mendapati bangkai berang-berang menggantung pasrah di pundak Jaya.

”Ini mau kau rupanya, huhh!” sambil menjewer daun telinga, ia menyeret masuk adiknya.

”Aduhhh..aduhhh..aduh... Ampun Kak... Ampunnn..” raung Jaya kesakitan. Pelintiran meremas dari jeweran kakaknya erat menempel tak sudi lepas lagi.

”Sudah kau buat aku menunggu berjam-jam di kios sore tadi. Sekarang malah muncul bawa bangkai berang-berang ke dalam rumah. Belum lagi muka kau belang-belang mirip luak bikin orang ngeri.”

”Sudah, Kak... Ampunnnn... Lepaskan jewerannya, perih...” Jaya memohon-mohon sambil meringis menahan sakit. ”Janji... Kak... aku takkan seperti ini lagi.”

”Jangan janji-janji pula kau. Tadi siang kau bilang mau jemput sebelum tutup kios. Kemana saja kau keluyuran, hah?!?!”

”Hari Maghrib bukannya kau sholat, eeh malah main-main di kolam. Cepat kau mandi sana, monyet!” bentak Kak Ruhiya lagi.

Tergesa-gesa Jaya berlari menuju kamar mandi. Telinganya yang terasa pedas, ia usap-usap. Kak Ruhiya geleng kepala saja menyaksikan tingkah laku adik remajanya itu. Ia mangkel sekali. Ia memang paling tak suka kalau siapa pun di dalam rumah mulai berani berbohong dan ringan mengucapkan janji. Karena seringan-ringan kapas, memang masih kalah ringan dengan berjanji. Dan perangai ini berbahaya bila menjadi kebiasaan.

Kak Ruhiya hanya ingin keluarganya menjunjung tinggi kejujuran. Ia juga mau anak dan adiknya pandai memanfaatkan waktu. Bukan menyia-nyiakan waktu melakukan hal yang tak bermanfaat sama sekali. Tidak ada nilai yang lebih tinggi daripada kejujuran dan kerja keras bagi Kak Ruhiya. Kejujuran mencerahkan jiwa dan menciptakan sikap amanah. Kerja keras mengangkat nilai harkat manusia. Demikian prinsip yang ia pegang teguh dan jalankan selama ini.

Saat ini walaupun masih mendongkol, tak terbersit rasa benci dalam hati pada adiknya. Memang orang-orang yang hidup dalam kebersahajaan seperti mereka, lebih jujur pada diri mereka sendiri dan saling mengasihi satu sama lain.

Kebahagian tak sungkan-sungkan mampir ke gubuk kayu. Ketika penghuninya semata ingin bernaung di bawah atap kejujuran dan senantiasa saling menjaga.

Di Tulis oleh M.Ichsan

Saturday, January 30, 2010

Awet Muda

Kusno terkenal dengan keteguhannya memegang perkataan yang ia ucapkan. Ya.. memang kalau bukan kata-kata, apa lagi yang bisa dipegang dari seseorang untuk mempercayainya?





Suatu ketika sahabatnya yang hendak merantau berkata, ”Kusno... Aku hendak pergi merantau. Saat ini umurku genap 21 tahun. Bila kelak aku kembali lagi ke sini berapa usiaku nanti?”



”Kita lihat saja berapa lamanya kau pergi merantau, Rin,” jawab Kusno.



”Usiamu berapa saat ini, Kusno?” tanya sobatnya lagi.



”Aku tiga bulan lagi genap 21 tahun, dan musim tanam ini jatuh temponya,” terang Kusno pada Sirin, sahabatnya.



Delapan belas tahun berlalu begitu cepat. Sirin yang merantau telah pulang kembali ke kampung halamannya. Ia berniat menemui Kusno yang masih saja bekerja sebagai petani Cabai itu.



Melangkahlah Sirin ke rumah Kusno.



”Sahabatku, Kusno...” panggil Sirin pada Kusno setibanya di beranda rumah.



“Siapa di luar sana?” sahut Kusno dari dalam rumah.



“Aku Sirin.”



“Masuk lah kemari, Rin.”



“Aku telah pulang merantau, Kusno. Aku pergi selama delapan belas tahun lamanya. Umurku telah bertambah, jadi 39 tahun sekarang.”



”Berapa usiamu saat ini, Kusno?” tanya Sirin langsung pada Kusno.



”Ya, tentunya masih 21 tahun, kawanku. Dan tiga bulan lagi genap hitungan usiaku. Musim tanam ini lah jatuh temponya,” jawab Kusno dengan mantap.



”Bagaimana kau ini? Aku saja merantau 18 tahun, usiaku kini 39 tahun karena ditambah usiaku saat mau pergi merantau dulu.”



”Dengarkan Aku, sobat. Aku orang yang tidak suka menambahi atau mengurangi suatu ucapan yang pernah terlontar keluar dari mulutku.”



”Dulu ketika kau mau pergi merantau, aku berkata usiaku genap tiga bulan lagi 21 tahun. Sekarang pun setelah kau kembali pulang dari merantau, maka aku tetap berkata hal yang sama,” ujar Kusno dengan penuh keyakinan dan mimik wajah serius.
Kiriman dari M.Ichsan member of Dr.Qbul Group in FB.

Sunday, January 3, 2010

Adil dan Sama Rata

“Masa kecil seseorang menentukan watak dan perilakunya suatu hari kelak”, Demikian orang bijak mengatakan, dan Hal yang sama terjadi pada diri Ujang sewaktu dia masih kanak-kanak dahulu.
“Hei…!! kenapa kalian bertengkar ?” tanya Ujang yang baru muncul dari semak belukar dekat kebun Pak Mamat.
“Lha, kamu sendiri darimana, Jang?” , Tanya ketiga temannya hampir berbarengan.
“Ah, Kalian pasti tahu! Kalo aku keluar dari sana, pasti sehabis mengerjakan hal yang besar,” Jelas Ujang kepada mereka dengan lagaknya.
“Mengerjakan Hal Besar?” Teman-temannya keheranan, “Hah…, Kami tahu, kamu pasti habis buang Air Besar di kebun Pak Mamat, Kan?!?!?” Seru mereka serempak.
“Iya, he…,he…,he…,” Cengar-cengir Ujang Cengengesan. “O..iya, Kalian tadi kenapa bertengkar?” Tanya Ujang. “Begini Jang,” kata salah seorang dari mereka memulai, “Kan tadi kita habis bantu mbah Parni, menggiring entok-entoknya pulang kekandangnya, Lalu, Mbah Parni yang baik itu memberikan kami delapan butir telur yang ada di hadapanmu itu,” Jelas Temannya kepada Ujang.
“kalau begitu kalian tinggal bagi-bagi saja telur-telur itu”, anjur Ujang kepada Mereka.
“Nah, Itulah pangkal sebabnya!”, Sahut teman-temannya hampir berteriak di depan Ujang.
“Pelan-pelan bicaranya,” kata Ujang spontan kaget.
“Telurnya ada delapan butir, kalau dibagi rata dengan kami bertiga tentu tidak bisa, setiap orang akan mendapat dua butir dan masih tersisa dua butir lagi.” Jelas temannya itu.
“Baiklah, aku akan membantu kalian kali ini, ulurkan dan buka tangan kalian masing-masing.’ Kata Ujang sambil mengambil telur-telurnya.
“Nah, sekarang setiap orang mendapat dua butir telur, tidak lebih tidak kurang.”
“Tapi, kan masih ada dua butir telur lagi, lalu bagaimana?” tanya mereka semua kebingungan.
“Ooo,kalau yang dua butir lagi tentunya untukku,sebagai upah telah membagi secara Adil kepada kalian telur-telur tadi ,” jawab Ujang.





Kiriman dari :
Muhammad Ichsan member of Dr.Qbul Facebook Group.

Monday, December 28, 2009

Sosialisasi Kondom

Penyakit yang paling ditakuti yaitu HIV, di seluruh negara dunia sekarang sedang dilakukan Sosialisasi Penggunaan Kondom, dan ada di beberapa negara-negara barat sudah memasukan ke dalam kurikulum sekolah tentang Education Sex.
Indonesia sebagai negara berkembang juga sudah termasuk kedalam peringkat yang memprihatinkan karena gaya anak muda sekarang selalu mengikuti Budaya Barat (Free Sex) sedangkan penyebaran yang paling Dominan adalah dengan melakukan hubungan badan yang berganti-ganti pasangan. Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan itu menggugah hati seorang Artis cantik dan seksi yang bernama Julia Perez (Jupe) yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi Duta Sex, dengan semangatnya sang Artis ini mensosialisasikan Education Sex dengan selalu menggunakan Kondom jika ingin berhubungan badan, nah Suatu ketika disuatu desa dari Team Kesehatan dan BKKBN melaksanakan Sosialisasi Penggunaan Kondom, konon didesa itu masih memegang tradisi nenek moyang yang berprinsip banyak anak banyak rezeki, Juru bicara dari team kesehatan mulai menjelaskan bagaimana cara menggunakan kondom, "Bapak-bapak sekalian, sudah pahamkan..? dengan ikut program Keluarga Berencana maka akan bahagia.." kata petugas kesehatan, "Pak, Bagaimana cara pakainya?"sahut salah seorang warga, "Baiklah, coba bapak lihat kondom ini, cara pakainya begini (sambil memasukan kondom itu kedalam jari tangan) nah setelah itu bapak-bapak silahkan main sepuasnya mau pake gaya apa." sahut petugas kesehatan, semua warga tertawa geli, "Oh, kalo cuma gitu sih mudah pak.., iya tidak bapak-bapak" sahut salah seorang warga di sambut warga lainnya, "Nah kalo begitu, silahkan bapak-bapak ambil Kondom ini jika kurang bisa ambil di puskesmas, ini semua gratis stock 1 tahun" sahut petugas kesehatan, akhirnya team mulai mendata per kepala keluarga agar mengetahui perkembangan selanjutnya, kemudian setelah mendata dan memberikan bantuan kondom petugas kesehatan itupun kembali ke tempat kerjannya di kota dan berencana akan kembali lagi ke Desa itu enam bulan kemudian memastikan apakah warga disitu sadar akan penggunaan kondom.
Enam bulan kemudian Petugas Kesehatan datang kembali ke Desa itu dan warga pun mulai berkumpul, "Bagaimana Bapak-bapak setelah menggunakan kondom kan bisa mencegah kehamilan?" tanya petugas, "Mencegah bagaimana pak? isteri saya malah hamil sekarang" sahut salah seorang warga, "Loh koq bisa bagaimana bapak-bapak yang lain?" tanya petugas keheranan, "Sama pak, sama ini malah sudah masuk 5 bulan.." sahut warga, "trus Bapak-bapak dipakai tidak Kondomnya?" tanya petugas yang semakin keheranan, "Di pakai pak sesuai contoh yang bapak berikan tempo hari" jawab warga, akhirnya petugas itu pun semakin penasaran dan mencari tahu sebabnya apakah ada kebocoran pada kondomnya atau tidak, "Sekali lagi saya tanya Apa bener Bapak-bapak sudah pakai kondomnya sesuai petunjuk yang saya berikan?" sahut petugas bertanya lagi, "Betul pak kami tidak bohong kalau tidak percaya tanya isteri-isteri kami, Sini kondomnya (salah seorang warga mempraktikan pengunaan kondom dengan memasukan kondom ke dalam jari) nah begini pak sesuai petunjuk bapak" sahut warga, "Pantes saja isteri bapak hamil, lah pake kondomnya dijari, maksud saya di pake di xxx (sensor) bukan di jari" sahut petugas, "Oh.." sahut warga. ~Sekian~ baca cerita lainnya di http://dr-qbul.blogspot.com

Friday, December 25, 2009

Tukang Bangunan

Cerita ini ketika aku dan teman-temanku jalan-jalan di sebuah Mall di bandar lampung, terjadi keributan sesama tukang bangunan, ceritanya begini, waktu itu saya dan temanku melihat-lihat sebuah baju dan buku karena kelamaan kami merasa lapar, "Din, laper nih, cari makan yuk..!" sahutku, "iya saya juga laper tapi cari dimana nih?" sahut temanku, "Ya illah,ini kan Mall pasti ada tempat makannya, yuk kita kelantai atas" sahutku, kamipun mulai berjalan ke lantai atas disana memang tempatnya makanan, sesampainya di atas kami melihat sedang ada renovasi, kamipun memilih makanan yang kami sukai, kebetulan tempat kami makan sebelahnya sedang di renovasi juga, tampa sengaja kami mendengar percakapan 2 orang tukang bangunan, sepertinya mendengar gaya bicara mereka keduanya dari suku yang berbeda jawa dan sunda, "Pak Manto tolong 'cokotkeun' palu itu" sahut salah satu tukang, "Opo yang mana Din?" kata Pak Manto," Palu..,palu tolong" kata Udin, "Oh Wong Edan, sampean aja sendiri" kata pak manto, lalu Pak Udin pun merasa kesal sama pak manto karena gak mau diajak kerjasama, "Manto.., kalo kamu gak seneng sama aing kamu kerjain nih sendiri." sahut pak budi, "Atos kang gak percaya, masa palu suruh di cokot" sahut pak manto, "Atos-atos bagaimana dari tadi si akang duduk disitu" sahut pak budi, (Atos dalam bahasa sunda artinya 'sudah' namun dalam bahasa jawa artinya 'keras' , jadi pak manto merasa terhina karena di suruh Nyokot palu(cokot dalam bahasa sunda artinya 'ambil' sedangkan dalam bahasa jawa 'gigit') Oalah, aku dan temanku tertawa terpingkal-pingkal mendengar percakapan mereka yang salah paham dengan pengertian kata yang berbeda, karena tawa kami terlalu keras akhirnya kedua tukang itu menghampiri kami, "Hei kalian menertawakan kami ya?" sahut tukang itu, 'iya pak saya minta maaf, habis bapak selalu berselisih yang gak penting" sahutku geli, "gak penting bagaimana?' sahut tukang itu keheranan, 'begini pak maksud dari pak budi tadi minta di ambilkan palu, iya gak pak, tapi dikira pak manto suruh gigit palu bener gak pak? nah makanya gunakan bahasa indonesia yang baik dan benar!' sahutku, "waduh terimakasih ya kang kami jadi malu" kata kedua tukang itu, akhirnya mereka kembali kerja. ~Sekian~ baca lainnya di Dr.Qbul kunjungi http://dr-qbul.blogspot.com

Kentut Dalam Bis

Cerita ini ketika aku pulang dari rumah teman di Tanggerang Komplek Alam Sutera, pada waktu itu aku beranjak pulang melalui terminal Kalideres, aku pun menanti Bis yang menuju ke merak karena tujuanku adalah Lampung.
Nah pada saat itu datanglah Mobil bis yang kutunggu-tunggu dengan merasa gembira akupun naik bis itu, "wah,..Nyaman sekali ACnya Dingin" sahutku dalam hati, kemudian tak lama mobil ini berhenti Penumpangpun sudah penuh dan siap untuk berangkat, karena perjalanan jauh sengaja aku beli bekal makanan kecil untuk makan dijalan. kebetulan di sebelahku duduk salah seorang Bapak-bapak berwajah garang pokoknya serem tampang penjahat, dalam perjalanan aku terdiam tidak berani untuk melihat wajahnya apalagi ngobrol.
di tengah perjalanan sang Kondektur mulai menariki Ongkos mobilnya dan setelah selesai menariki ongkos sang kondektur mencium Bau busuk, begitu pula dengan suara gaduh penumpang lainnya,
karena merasa terngganggu dan saling tuduh, Kondektur tadi lalu teriak...,
"Maaf Yang Kentut tadi Belum Bayar Ongkosnya...!!" sahut Kondektur dengan suara lantang yang sekaligus mendiamkan penumpang, Tanpa sadar yang duduk disebelahku teriak " Mas tadi aku sudah Bayar bahkan kembaliannya belum.., Enak aja...!!" Sahut Bapak disebelahku, Akhirnya penumpang yang lainnya pun mengetahui siapa yang kentut tadi, akupun tersenyum geli, lalu bapak itu bertanya padaku, " Ada apa koq semua tersenyum?" tanya Bapak itu, "Tahu gak pak Kondektur tadi cuma ingin tahu siapa yang kentut" sahutku, lalu bapak itu tertunduk malu. he,he,he ~Sekian~
Baca Lainnya di Dr.Qbul kunjungi http://dr-qbul.blogspot.com
Terima Kasih Atas Commentnya.!

Wednesday, December 23, 2009

Perampok memperkosa

Suatu hari di sebuah kampung tak jauh dari perkotaan ada sebuah keluarga kaya raya pemilik kebun sawit, pasalnya keluarga ini mengalami kemujuran karena hasil panennya melimpah tahun ini, Kepala keluarga ini bernama Pak Ukin yang sudah lama menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya dengan keberhasilanya menanam kelapa sawit, ketika itu saatnya Panen raya, Pak Ukin pun berangkat ke kota untuk menjual ke Pengepul kelapa sawitnya, wah hasilnya lumayan pak Ukin pun membawa uang sekitar 150juta, namun sebelum pulang pak Ukin sempat mampir ke Bank menyetorkan sebagian uangnya keBank dan sempat mampir ke Mall untuk membeli kebutuhan rumahnya, setibanya di rumah Pak ukin disambut hangat oleh isterinya yang Cantik maklum isterinya dulu seorang kembang desa, Suatu ketika pada malam hari Pak Ukin menghadiri pertemuan di Balai Desa karena beliau telah berhasik maka Pak Lurah memintanya untuk sebagai nara sumber, namun dirumahnya pak ukin rupanya sudah ada yang mengawasi dua orang pemuda pengangguran, mungkin ke dua pemuda tadi sudah tahu pak ukin telah menjual hasil panennya, setelah pak ukin pergi tanpa ragu kedua pemuda tadi masuk sambil mengenakan topeng kerumah pak ukin, karena isterinya sendirian maka ke dua pemuda tadi dengan sangat leluasa mengobrak abrik mencari uang hasil penjualan kelapa sawit, dan setelah di dapat ke dua pemuda tadi berniat melarikan diri, namun ketika melihat kemolekan istrinya pak ukin, kedua pemuda pengangguran itu pun tergiur akhirnya dimasukannya kedalam kamar, dengan berontak isterinya pak ukin akhirnya kedua pemuda tadi memaksa melepaskan pakaiannya satu persatu, kemudian salah satu perampok itu mulai menggerayangi tubuhnya, mengulum puting susunya dan mulai memasukan pelurunya, namun karena terasa nyeri menjerit dan memanggil suaminya, 'Mas ukin, tolong Mas ukin..' sambil merintih, 'iya sabar ini juga lagi di masukin' sahu perampok, kembali wanita itu teriak 'Mas ukin, oh mas ukin..' 'iya inikan sudah masuk' sahut perampok itu, namun karena sunyi teriakan isterinya pak ukin terdengar sampai balai desa karena jaraknya tidak jauh akhirnya masyarakat mengepungnya dan menangkapnya, babak belur lah kedua pemuda tadi, 'kenapa kamu perkosa isterinya, kalo niat kamu cuma ambil uang?' tanya pak lurah kepada kedua perampok, 'Ma,maafin kami pak, tadinya niat kami cuma ingin melihat tubuhnya, namun wanita itu minta dimasukin' jawab perampok, 'Dasar bajingan kamu! dia itu manggil suaminya ukin, bukan minta di masukin, maksudnya Mas Ukin' sambil menempeleng kedua perampok itu, tidak lama kemudian polisi datang dan membawanya ke teralis besi.~Sekian~
(baca cerita lainnya di Dr.Qbul kunjungi atau klik http://dr-qbul.blogspot.com

Tuesday, December 22, 2009

Beli Handphone dan Sinyal

Pada hari minggu aku kedatangan tamu dari kampung, seorang pemuda anak juragan kelapa terkenal, maksud kedatangannya bermaksud untuk minta antar beli Handphone, namanya kang Arman, karena kampunya sangat terisolir dan dia hanya punya kesempatan 4 jam sampai mobil barangnya kembali, kamipun pergi kesebuah toko Handphone terbesar, lalu kami mulai mencari sesuai seleranya Arman, setelah ketemu lalu Arman pun nego harga sama pemilik toko, 'Koh ini harganya berapa?' kata Arman sambil menunjuk ke sebuah HP, 'oh...itu murah hanya 6 juta.' kata pemilik toko, dan kamipun berbincang meminta pendapat, setelah kuberikan pendapat lalu Arman pun menyetujuinya, 'Baiklah Koh saya ambil yang itu.." sahut Armand, lalu pemilik toko mengambil pilihan si Arman, 'nah saya buka dulu ya, saya lihat isi kotaknya takut ada yang kurang' sahut pemilik toko, setelah di periksa lengkap dan di coba tidak ada masalah pemilik toko itu mengemasnya kembali dan memberikan Kartu Garansinnya,lalu pemilik toko itu bertanya 'Punya Sim Cardnya?' lalu si Arman menjawab 'Oh Sim.., Ada,ada saya punya.' lalu pemilik toko itu menulis nota dan memberikan pada si Arman 'Baiklah kalo begitu, nanti kalo ada keluhan lain silahkan datang lagi kesini, Kamsia, kamsia,' kata Pemilik toko sambil menghitung uang yang di berikan si Arman, setelah selesai kamipun kembali kerumah..sesampainya dirumah si Arman pun mengeluarkan Sim teringat kata pemilik toko tadi kalo gak ada Sim Card Handphonenya tidak bisa berfungsi, ya maklum desa terisolir kurang kenal teknologi, dikeluarkannya Simnya lalu bertanya padaku 'ini cara pasangnya gimana ya?' tanya Arman, 'maksudmu?' aku balik bertanya,'katanya tadi suruh pake Sim' kata Arman, 'waduh aku kira kamu tahu, maksudnya kartu Perdana bukan Sim Motor! kalo gitu kita balik lagi yuk' aku menjawab, sesampainya di Toko Handphone yang tadi lalu Arman membeli Kartu perdana, 'Man daripada kita kembali lagi lebih baik semua Operator kamu beli' sahutku, 'Ya udah saya beli semua' jawab Arman, setelah diajarkan cara pasangnya lalu kami kembali pulang, namun setelah sesampainya dirumah mobil sudah menunggu menjemput Arman, kemudian Arman pun pulang kerumahnya, seminggu kemudian Arman datang lagi kerumahku, 'Kang Anton,semua Sim sudah kucoba tapi kok gak bisa telpon kamu atau sms kamu?' Arman bertanya padaku, 'Masa sih, kalo gitu kita ke toko lagi yuk kita tanyakan sama si engkoh' sahutku, sesampainya ditoko Arman pun menjelaskan semua keluhannya, 'Oh semua sudah betul, tapi kenapa koq gak bisa ya?' kata pemilik toko,'Nah itu masalahnya koh, setiap untuk telepon selalu bunyi Tulalit terus di layar ada tulisan No Signal, semua kartu sama' kata Arman, 'Oh..,itu artinya ditempat kamu gak ada Sinyal' jawab pemilik toko, 'Kalo begitu sekalian saya beli Sinyalnya' kata Arman, aku dan pemilik toko pun tersenyum ~Sekian~
(baca cerita lainnya di Dr.Qbul kunjungi/klik http://dr-qbul.blogspot.com )

Tuesday, December 15, 2009

Ada sebuah folklore dari China

Ada sebuah folklore dari China ttg seorang lelaki yang menunggangi harimau.. Isi cerita mendeskripsikan lelaki begitu acuh sama nasehat org2 kampungnya.. One day, swktu dia mau prgi ke htn, org2 blg jgn pergi ke sana... si-lelaki EGP aja sikapnya... Then, dia dpt mslh..
Si-lelaki b'jumpa dgn harimau, gmtar seluruh bdn, keringat bercucuran, air liurnya pun bergelimpangan.. Dengan ketakutan yang sangat hebat dia memanjat sebatang pohon kelapa utk menghindari bhy diterkam harimau... Namun kaki dan tangannya tak kuasa menahan beban tbhnya.. Harimau masih menunggu di bawahnya... Klimaksnya...
Harimau pun bingung, dia paham sekali kalo dirinya ditakdirkan jadi pemangsa dan bilang pada lelaki itu, "Ente ngapain nunggangin ane, ente ngelindur, ya? Ane kan bukan 'KUDA'... "Maafin ane, om harimau.. Tapi, oom juga ngapain nungguin ane di bawah pohon?" ujarnya gemetaran.. "Jangan banyak bacot, lu! Bilang aja ente ...
Wal hasil, harimau dan lelaki itu menghabisi hari bersama... Lelaki itu dengan erat mendekapkan kakinya di lingkar perut harimau karena takut jatuh 'n langsung dicabik-cabik harimau... Orang2 kampung pada gedek-gedek tanpa nekan inex ngeliatinnya.. "Rasain lu, udah dibilangin jangan ke hutan sana.. Dasar kepale batu!" umpat mereka semua...
Cerita tadi cuma gambaran... "Nasehat akan berguna kalo kita ikutin...Orang bijak bilang,
"Manusia berjiwa merdeka lebih diingatkan dengan nasehat, namun yang berjiwa 'BUDAK' lebih mudah diingatkan dengan 'PUKULAN TONGKAT'...
Tulisan Kiriman dari Muhammad Ichan
nih fotonya kalo gak percaya
tetap bersama Dr.Qbul baca lainnya di http://dr-qbul.blogspot.com
ingin tulisan anda dimuat seperti ini, Gabung di Group Dr.Qbul facebook
Posting tulisan anda...

Monday, December 7, 2009

SALAH PAHAM

Di sebuah Kelurahan akupun sengaja main menemui teman lamaku,kamipun berbincang-bincang pengalaman masing-masing, disela-sela perbincangan pak lurah datang menghampiri kami bersama seorang bapak tengah baya dan berbicara pada temanku, 'mas badru...,tolong kamu urus bapak ini mau buatkan KTP' lalu temanku menjawab'Baik pak' kemudian pak lurah itu mempersilahkan bapak paruh baya itu dan kembali keruangannya, lalu temanku mulai bertanya pada bapak itu, 'Maaf pak, namanya siapa?' sahut temanku, lalu bapak itu menjawab 'Tulis Sumarsono' setelah selesai mendata lalu temanku meminta bapak itu datang lagi minggu depan dan kamipun melanjutkan percakapan bersama temanku, tampa terasa jam menunjukan pukul 3 sore, 'Sudah waktunya jam pulang nih' sahut temanku, 'Ya okelah kalo begitu kita pulang' kataku, dan kamipun pulang, Seminggu kemudian sayapun datang lagi ketempat temanku, melanjutkan pembicaraan minggu yang lalu, dan Bapak paruh baya itu datang lagi dan bertanya' Pak Lurahnya ada? oh iya gimana KTPku sudah jadi belum?' kata bapak itu, 'Pak Lurahnya sedang Rapat di Kantor Kecamatan, KTPnya sudah jadi...ini' kata temanku, 'Wah terimakasih banyak ya' sahut bapak itu, kemudian bapak itu pergi, dan tiba-tiba Bapak itu kembali 'Maaf dik ada yang salah' kata bapak itu, 'salah bagaimana pak?'temanku bertanya, 'ini pada namanya, saya bilang kemaren kan Tulis Sumarsono' lalu temanku menjawab,'iya pak sudah bener lah itu sudah saya Tulis Sumarsono, lalu Bapak itu bicara dengan nada marah, 'Mana, kamu punya mata tidak ini bacanya apa?' sahut bapak itu, dan temanku melihatnya dan menjawab, 'Bapak yang gak bisa baca, itukan bacanya Sumarsono...,Lalu apanya yang salah dan bapak kemaren suruh Tulis Sumarsono' sahut temanku, 'ya maksud saya namaku Tulis Sumarsono, bukan suruh nulis, Tulis itu namaku...' kata bapak itu, 'Oh...kalo begitu saya minta maaf, sini KTPnya pak saya buatkan yang baru'kata temanku, 'Baik, tapi cepat ya...,soalnya mau saya pake itu' kata bapak itu sambil pergi, 'nah, salah dia namanya Tulis kirain suruh nulis..' Menggerutu padaku, 'Makanya kalo buat KTP itu catat dari KKnya' kataku sambil tertawa. 'iya ya..' he,he,he. ~baca cerita lainnya di http://dr-qbul.blogspot.com~

Saturday, December 5, 2009

SALAH PERSEPSI

Pada waktu itu aku kedatangan seorang teman lama yang tinggal dijakarta, mengajaku pergi untuk menemani observasi penelitian tanaman pangan yang ada di desa itu, namanya desa sidowaras, memang desa tersebut sangat jauh sekali dari perkotaan dan terisolir, karena belu ada jalan yang menghubungkan dengan desa lain, kamipun harus menempuh perjalanan hingga 8 jam menggunakan kuda karena tidak bisa dilalui oleh kendaraan sepeda motor apalagi mobil, Peneranganpun hanya menggunakan lampu tempel dengan menggunakan minyak yang buatan sendiri dari air kelapa yang diperas oleh karena itu temanku sangat tertarik ingin meneliti tanaman yang biasa mereka konsumsi, setibanya di Perkampungan itu kamipun lansung istirahat, 'wah ..,suasana yang nyaman sekali ditambah sejuknya udara yang bersih,bebas polusi.., sahutku kepada temanku, 'iya.,ya wah senang rasanya cari gadis aja ton., kata temanku bercanda,'ha..ha..bisa aja kamu ntar yang dirumah gimana, yuk mandi hari mulai gelap.' kataku, 'mas kalo mau mandi, disana ada kali (sungai) nanti aku anter'kata tuan rumah yang bernama mbah dul, 'iya mbah., biar kami sendiri aja gak usah repot-repot', sahut kami berdua, akhirnya kamipun berangkat mandi, kami merasa takjub melihat sungai yang jernih sekali banyak bebatuan yang lumayan besar sekali, selesai mandi kamipun kembali ke rumah mbah dul, karena lantainya masih tanah kamipun duduk diatas dipan yang lebar, teh asli buatan sendiri pun sudah tersaji dengan makanan khas desa tersebut, 'mmm..nikmat sekali makanan ini, dan tehnya pun mmm...harum bunga melati' kataku kepada temanku,'iya..ya..saya baru kali ini makan senikmat ini dan tehnya...mana tahan.! mbah tehnya masih?'sahut temanku, 'iya masih buanyak itu masih dikuali'kata mbah dul, 'oh..pantes masaknya pake kuali, kayak teh poci'sahutku, Tampa terasa kami kebanyakan makan dan kekenyangan kamipun mencari toilet/WC dan ternyata tidak ada. karena lagi pada kumpul kamipun bertanya 'Mbah.., mau kami mau Buang Air Besar,dimana ya..?' sahut temanku, ' oh itu, kenapa gak ngomong dari tadi, aku biasanya disitu, situ tu depan pintu..,kata mbah dul, Kamipun mikir 'masak didepan pintu mbah..?' sahutku, 'Kenapa mau Air Kecil, Air Besar ya, disitu aja gak apa-apa tinggal siramin aja situ',kata mbah dul,Kamipun ketawa geli ditambah mbah dul bicara sambil ambil gelas menunjukan kepada kami 'Mau buang Air Besar kek, Buang Air Kecil kek sama saja.., Sekian http://eanktea.blogspot.com

Thursday, December 3, 2009

Mati Kaku

Berawal saat mendapat tugas kantor untuk meninjau lokasi di sebuah Perkampungan yang memang dikampung itu sering terjadi kejadian aneh, saat aku tiba di perkampungan itu yang memang jaraknya amat jauh hampir 4 jam, akupun duduk istirahat dirumah Kepala Desa, sambil bincang-bincang mengenai program pelatihan yang akan ditempatkan di desa itu tampa terasa hari mulai gelap dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali pulang, akhirnya kuputuskan untuk menginap dirumah kepala Desa, Sekitar jam 7 malam tiba-tiba ada teriakan dari luar 'Pak Kades,pak kades..' lalu pak kades pun keluar, lalu terjadilah perbincangan serius,dan aku lihat dari dalam orang tadipun pergi, lalu aku bertanya 'Pak ada apa ya..,kok kelihatan gawat sekali','itu ada warga yang meninggal,dik..aku tinggal dulu ya...' kata kepala desa, 'pak..saya ikut'sahutku, lalu kamipun pergi ketempat yang meninggal,setibanya disana yang memang sudah ramai kamipun masuk kerumahnya, lalu pak kades agak terheran-heran karena dilihatnya simayat tangannya kaku keatas (posisi mayat terlentang), 'itu apa tangannya tidak bisa dilipat? ya minimal ditidurkan'tanya pak kades pada seorang kyiai, 'wah,sudah berbagai cara pak kades,tetap tidak bisa' jawab kyiai, akhirnya pak kades menelpon hampir 10 paranormal dan kyiai kenalannya, setelah mencoba satu persatu tidak berhasil, akhirnya diadakan musyawarah untuk tetap dimakamkan dengan posisi begitu, didalam sebuah kamar anak-anak malah bermain-main,saking asyiknya bermain sampe keluar kamar, ada salah satu anak yang iseng bermain dengan si mayat katanya 'Kacang-kacang panjang yang panjang jadi' akhirnya tangan si mayat melipat sendiri 'takut jadi kali ye...' dan semua terheran-heran,akhirnya simayat bisa dikuburkan dengan normal.~Sekian.~ http://eanktea.blogspot.com

Situs Jual Beli

Situs Jual Beli
Portal Iklan Gratis Indonesia